Regional News

Kasus Kebakaran & Ledakan Tangki Bioetanol Masuk Ranah Pidana

Kasus kebakaran disertai ledakan dua tangki bioetanol PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto

MOJOKERTO, ISafetymagazine.com – Kasus kebakaran disertai ledakan dua tangki bioetanol PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Mojokerto yang menewaskan seorang pekerja dan mencederai 10 pekerja lainnya pada Senin (10/8/2020), masuk ranah hukum pidana.

Sepekan setelah kasus kecelakaan kerja fatal itu terjadi, pihak kepolisian dari Polres Mojokerto menaikkan status penyelidikan ke penyidikan. Peningkatan status pengusutan itu dikarenakan polisi menemukan adanya unsur pidana dalam kasus tersebut.

“Kalau ada tidaknya unsur pidana sudah (ada). Karena ini sudah pada proses penyidikan,” kata Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Sodik Efendi sebagaimana dilansir dari laman detikcom, Selasa (18/8/2020).

Namun, AKP Sodik belum bersedia menyebutkan bentuk pidana dimaksud. Sodik berdalih, proses penyidikan masih terus berjalan.

“Kami belum berani menyebutkan sekarang (bentuk pidananya). Yang jelas terkait dengan kebakaran kemudian ada ledakan, kami menyimpulkan ada unsur pidananya,” AKP Sodik menegaskan.

Menurut Sodik, tahap penyidikan ini untuk mengungkap pihak-pihak yang bersalah sehingga terjadi ledakan di PT Enero.

“Tidak menutup kemungkinan dalam beberapa minggu ini kami gelar perkara untuk menentukan proses lebih lanjut. Jadi, saat ini dugaan awal sudah. Untuk menentukan siapa yang bersalah, menunggu proses penyidikan lebih lanjut,” katanya.

Ada 14 Saksi Diperiksa dalam Kasus Kebakaran & Ledakan Tangki Bioetanol

Dalam kasus ini, pihak kepolisian telah memeriksa 14 saksi. Mereka berasal dari PT Enero, PTPN X, PT Bharata Indonesia/BI (kontraktor), CV Agung Jaya Konstruksi/AJK (sub-kontraktor), dan konsultan proyek.

Berdasarkan keterangan para saksi maupun hasil olah TKP, kata Sodik, terungkap fakta bahwa sebelum ledakan terjadi, para pekerja CV AJK sedang mengelas pipa.

Pipa yang dilas para pekerja terhubung dengan tangki penampungan bioetanol berkapasitas 200.000 liter yang sedang diujicobakan. Tangki raksasa ini baru terisi sekitar 59.000 liter cairan bioetanol. Sodik menduga, hawa panas dari pengelasan pipa memicu kebakaran pada tangki.

“Pengelasan itu karena pipanya terhubung ke tangki technical alcohol (TA). Hawa panasnya masuk ke tangki TA. Namun untuk kepastiannya, kami menunggu hasil Labfor,” ungkapnya.

Kebakaran tersebut mengakibatkan tangki pabrik bioetanol milik PT Enero berkapasitas 200.000 liter meledak. Menurut Sodik, tangki yang meledak lantas terpental dan menghantam tangki penampungan bioetanol yang berukuran lebih besar. Yakni tangki raksasa berkapasitas 1,5 juta liter, tempat menampung bioetanol dengan kadar 96 persen.

“Tangki pertama meledak kemudian melesat menghantam tangki di sebelahnya sehingga terjadi ledakan lebih besar. Jadi, yang meledak dua tangki, ledakan kedua lebih kuat karena isinya (bioetanol) lebih banyak,” terangnya.

Kasus kecelakaan kerja fatal itu itu terjadi di pabrik bioetanol milik PT Enero di Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Senin (10/8) sekitar pukul 15.15 WIB. Dua kali ledakan mengakibatkan satu pekerja tewas, sedangkan 10 pekerja lainnya menderita luka bakar. Mayoritas para korban pekerja dari CV AJK. Hanya satu pekerja dari PT BI yang menjadi korban.

Selain merenggut korban, kasus itu juga mengakibatkan 57 rumah warga di Dusun Sukosewu, Desa Gempolkrep mengalami kerusakan yang tergolong ringan dan sedang seperti plafon ambrol, dinding retak dan kaca jendela depan rumah pecah. Permukiman warga di dusun ini berada di sebelah timur, selatan dan utara dari titik ledakan.

Dilakukan juga penyidikan gabungan bersama Dinas Tenaga Kerja!

Sodik menambahkan, proses penyidikan yang dilakukan pihaknya saat ini melibatkan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Cabang Surabaya dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jatim. Penyebab pasti terjadinya ledakan akan ditentukan oleh Tim Labfor.

Sedangkan penyidikan gabungan bersama Dinas Tenaga Kerja untuk mengungkap adanya indikasi masalah pada manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Kasus Kebakaran & Ledakan Tangki Bioetanol
Photo by David Knudsen on Unsplash
Ibarat mencari akar penyebab. Fix the system not the blame!

Proyek Belum Serah Terima

Sementara itu, Humas PT Enero Ariel Hidayat menyebut PT Bharata Indonesia (BI) menjadi rekanan atau pelaksana proyek di PT Enero. Namun, kontrak proyek tersebut secara langsung antara PT BI dengan PTPN X. PT Enero sendiri merupakan anak perusahaan PTPN X.

PT BI lantas bekerjasama dengan CV AJK untuk mengerjakan proyek di PT Enero. Salah satunya terkait pembuatan tangki penampungan bioetanol dan pipanisasi hidran.

“Kami serahkan proses hukum ke pihak kepolisian, kami akan kooperatif terhadap proses penyidikan ini,” kata Ariel sebagaimana dilansir dari laman detikcom, Rabu (19/8/2020).

Ariel mengatakan proyek pembuatan tangki penampungan bioetanol maupun pengelasan pipa di PT Enero itu berada di bawah kewenangan PTPN X. Perusahaan plat merah itu kemudian menunjuk PT BI sebagai kontraktor pelaksana. Sementara PT Enero hanya menjadi lokasi proyek saja.

“Bahwa yang terlibat dalam ledakan ini banyak pihak. Proyek itu belum serah terima, di bawah PTPN X, dikerjakan oleh Bharata. Kebetulan saja lokasi proyeknya ada di tempat kami,” terangnya.

Menurut Ariel, mengingat proyek tersebut belum serah terima, maka  aktivitas proyek yang kemudian memicu terjadinya kebakaran dan ledakan dua tangki, berada di bawah tanggung jawab PT BI  dan sub kontraktor CV Agung Jaya Konstruksi (AJK).

“Pada prosesnya, saat pengawasan pihak Enero tidak ada (keterlibatan). Karena itu kan di bawah tanggung jawab pihak kontraktor. Hanya lokasi proyek itu di Enero,” katanya.

Baca juga:

Dikonfirmasi soal tangki pertama yang meledak adalah tangki yang sedang diuji coba untuk diisi bioetanol, Ariel membenarkan.

“Terkait pada saat pengelasan ada proses pengisian (bioetanol) kami belum tahu informasi itu. Memang ada uji coba tangki. Saya kira semua pihak mestinya melakukan prosedur saat pengelasan. Kelalaian di mana? Ini (yang masih) dalam penyidikan kepolisian,” tegas Ariel. (Lutfi Syawal)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

9 + 8 =


Back to top button