Kembangkan Pilot Project Hidrogen Hijau di Ulubelu, PGE Investasi Sekitar 3 Juta Dolar AS

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono menambahkan pengembangan hidrogen hijau merupakan bagian dari upaya Pertamina menurunkan emisi karbon dari sisi operasional aset strategis.

Lampung, isafetymagazine.com – Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengalokasikan investasi sekitar US$3 juta untuk mengembangkan pilot project (proyek percontohan) hidrogen hijau di Ulubelu, Lampung.

Langkah ini sebagai bagian dari strategi transisi energi rendah karbon berbasis panas bumi.

Direktur Utama (Dirut) PT PGE, Ahmad Yani mengatakan proyek ini masih berada pada tahap pilot project nonkomersial yang ditujukan untuk membuktikan kesiapan teknologi, aspek keselamatan, dan model bisnis sebelum dikembangkan dalam skala yang lebih besar.

“Proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu memiliki kapasitas produksi sekitar 80-100 kilogram per hari, yang dihasilkan dari pemanfaatan listrik panas bumi dengan teknologi anion exchange membrane electrolyzer dan efisiensi sekitar 80 persen,” katanya.

Pernyataan ini disampaikannya usai seremoni ‘Kick off ESG Initiative Green Terminal’ di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten pada Rabu (11/2/2023).

Sebagian besar produksi hidrogen hijau dimanfaatkan mendukung kebutuhan energi rendah karbon di Terminal LPG Tanjung Sekong. Hal ini dilakukan melalui penggunaan teknologi fuel cell sebagai pengganti sumber energi berbasis bahan bakar fosil.

“Sekitar 80 persen (hidrogen hijau) dari Ulubelu akan digunakan untuk keperluan Terminal Tanjung Sekong,” ujarnya.

Ahmad Yani meneruskan pengembangan hidrogen hijau Ulubelu dilakukan melalui pembentukan ekosistem antaranak usaha Pertamina seperti Pertamina Energy Terminal sebagai pengguna hidrogen dan Elnusa Petrofin untuk dukungan distribusi.

“Pilot project tersebut ditargetkan beroperasi pada triwulan IV 2026 dengan masa uji coba selama tiga tahun sebagai proof of concept dan commercial readiness sebelum Pertamina mengembangkan bisnis hidrogen hijau dalam skala yang lebih luas, seiring potensi pemanfaatannya di sektor energi dan industri,” ujarnya.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono menambahkan pengembangan hidrogen hijau merupakan bagian dari upaya Pertamina menurunkan emisi karbon dari sisi operasional aset strategis.

“Ini menunjukkan bahwa transformasi menuju bisnis berkelanjutan tidak hanya konsep, tetapi sudah diterapkan langsung di aset operasional strategis,” tuturnya.

Pemanfaatan hidrogen hijau di Terminal LPG Tanjung Sekong diharapkan dapat berkontribusi pada penurunan emisi dari konsumsi energi listrik konvensional sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Terminal LPG Tanjung Sekong merupakan salah satu fasilitas strategis Pertamina yang menyuplai sekitar 35%-40% kebutuhan LPG nasional.

Jadi, penerapan energi rendah karbon di fasilitas tersebut dinilai memiliki pengaruh terhadap upaya dekarbonisasi sektor energi hilir. (adm)

Sumber: AntaraNews

 

Exit mobile version