Jakarta, isafetymagazine.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyebutkan Jakarta sebagai wilayah dengan tingkat depresi dan kecemasan tertinggi di Indonesia.
Kondisi ini didasarkan hasil skrining kesehatan jiwa per 15 Agustus 2025 menyebutkan gejala depresi di Jakarta sebesar 9,3% dan kecemasan 7,6% atau di atas rata-rata nasional sekitar 1%.
Dengan begitu Kemenkes RI mengingatkan ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan perusahaan untuk memperluas akses layanan kesehatan mental.
Selain itu mengupayakan kebijakan pengendalian polusi, perbaikan transportasi, dan dukungan ekonomi yang dapat menurunkan tekanan hidup masyarakat.
Chika Valent seorang pekerja (24) merantau ke Jakarta mengaku tekanan hidup dialaminya bekerja di Jakarta berakibat stres semakin tinggi dialaminya.
“Jauh dari keluarga dan nggak ada teman curhat bikin ngerasa stres. Kemacetan dan polusi bikin energi habis sebelum kerja,” katanya pada Kamis (11/9/2025)
Dengan begitu dia meminta perusahaan menyediakan asuransi psikolog dan fasilitas konsultasi di kantor.
“Mental sehat itu investasi produktivitas perusahaan,” katanya.
Pada kesempatan lain Dea Hardianingsih, pekerja (27) merasa beban kerja yang dipikulnya tinggi, padahal penghasilan minim. Apalagi. biaya psikolog yang mahal memperparah kondisi.
Jadi, dia menilai perbaikan infrastruktur dan kenaikan upah minimum dianggap perlu untuk mengurangi sumber stres, walaupun fasilitas psikolog tetap dibutuhkan dirinya.
“Daripada fokus sama pengobatan stressnya sih, saya lebih baik pencegahan terhadap alasan stresnya ya. kalau orang stres karena macet, ya diperbaiki infrastruktur jalannya biar nggak macet. Orang stres karena pendapatan, ya naikkan upah minimun,” ucapnya
Psikolog Veronica Adesla menanggapi biaya hidup yang tinggi, ketidakstabilan ekonomi, kasus kejahatan berakibat rasa tidak aman menjadi pemicu stres dan depresi di Jakarta.
Langkah ini dihadapi beberapa perusahaan dengan menyediakan Employee Assistance Program (EAP) dan asuransi psikolog dengan sistem reimbursement. Namun, layanan ini belum disediakan semua perusahaan di Jakarta.
“Untuk faktor-faktor yang bisa menyebabkan ataupun berhubungan dengan tingkat stres dan depresi antara lain Tekanan hidup dan kesulitan yang harus dihadapi di Jakarta, seperti biaya hidup yang tinggi namun sulit mencari pekerjaan, pemasukan yang tidak mampu memenuhi biaya hidup yang tinggi,” tuturnya. (adm)
Sumber: Bloomberg Technoz