i-ExpertRegional News

Mengapa Api Cepat Berkobar di Kejakgung? Ini Penjelasan Pakar Forensik Api

Dr Ir Adrianus Pangaribuan, MT, CFEI, tidak ada hal aneh dalam kasus kebakaran gedung Kejakgung

JAKARTA, ISafetymagazine.com – Kebakaran yang menghanguskan salah satu gedung di kompleks kantor Kejaksaan Agung (Kejakgung), menyisakan tanya di sebagian masyarakat; mengapa kebakaran itu terjadi begitu cepat?

Aneka spekulasi dengan cepat beredar di masyarakat. Mulai dari hal teknis seperti tidak tersedianya sistem proteksi kebakaran aktif hingga spekulasi beraroma politis, sabotase. Benarkah?

Flashover dan Asap

Menurut pakar forensik api, Dr Ir Adrianus Pangaribuan, MT, CFEI, tidak ada hal aneh dalam kasus kebakaran gedung Kejakgung. “Secara ilmu dinamika adalah hal yang sangat wajar. Dalam dinamika api, kebakaran dalam ruang untuk mencapai puncak (full develop) memakan waktu 8 sampai 10 menit untuk mencapai fase yang dinamakan flashover. Temperatur pada saat flashover antara 800oC – 1200oC. Pada saat flashover  terjadi benda apapun yang ada di dalam ruangan yang terbakar dan titik nyala-nya di bawah 800oC – 1200oC otomatis akan menyala,” kata Adrianus.

Fase Kebakaran

Investigator independen kebakaran (CFEI: NAFI 14553-9874) ini menjelaskan, hal lain yang memicu kecepatan perambatan api adalah asap. Asap yang dihasilkan dari proses kebakaran atau pembakaran, merupakan bahan bakar baru yang bisa menjadi jembatan bagi api.

“Asap yang merupakan bahan bakar baru  ini terdiri atas rangkai panjang rantai karbon yang sebenarnya susah untuk terbakar. Namun karena sumber panas tidak dihilangkan (dipadamkan), material baru ini (asap) akan mencapai titik nyala dan terbakar dengan sendirinya. Dan kalau asap ini tidak dikendalikan lalu berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya, maka asap ini menjadi jembatan bagi api dan pada saat yang bersamaan bisa menyala bersamaan,” Adrianus menjelaskan.

“Jadi tidak usah heran jika api bisa merambat dari satu ruang dari ruang lainnya dengan cepat, karena asap (bahan bakar) sudah lebih dahulu mengisi ruangan lain selain ruang yang terbakar. Dan jangan pula heran kalau api menyala dari satu ruangan ke ruangan lain tanpa berurutan atau serial sebab api bisa melompati satu ruangan ke ruangan lain dengan melewati ruang lain sebelumnya,” kata Adrianus mengingatkan.

Kebakaran Kejagung Mahfud MD: tak perlu spekulasi, dokumen perkara aman

Pada gedung bertingkat tinggi kebakaran di lantai satu tidak harus diikuti oleh lantai kedua dan begitu seterusnya. Bisa saja setelah lantai satu yang terbakar, berikutnya adalah lantai 3, lantai 5, dan setelah itu baru kembali ke lantai 2 dan lainnya. Demikian juga kalau yang terbakar gedung mendatar (deretan ruko).

Adrianus mencontohkan kasus kebakaran yang menimpa apartemen Grenfell Tower di Keningston Utara, London Barat, Inggris tahun 2017 silam. Apartemen 24 lantai itu, habis terbakar dalam tempo 15 menit dan menewaskan 72 penghuni apartemen pada 14 Juni 2017.

Material bangunan dan kegagalan sistem proteksi aktif

Disinggung soal material konstruksi bangunan gedung Kejakgung yang terbakar dan merupakan bangunan cagar budaya di mana material bangunan didominasi kayu, Adrianus menegaskan bahwa faktor material bangunan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan rambatan api.

Material yang sudah dimakan umur tentu akan lebih mudah untuk terbakar, karena adanya faktor oksidasi. “Contohnya material kertas, kertas baru berwarna sangat putih setelah tertumpuk beberapa waktu warnanya kan berubah kekuningan. Perubahan ini akibat oksidasi, dan material yang teroksidasi pada kondisi tertentu akan lebih cepat terbakar,” katanya.

Ilustrasi kayu berpori

Begitu pula dengan material kayu yang setelah beberapa waktu akan mengalamai degradasi di mana kayu mulai berpori dan dalam setiap pori itu akan diisi udara. “Hal ini akan mempercepat material kayu lebih mudah terbakar jika telah berumur pada jenis kayu tertentu, ditambah lagi setiap jenis kayu mempunyai unsur turpentine di dalam sel kayu, di mana turpentine merupakan bahan baku pembentuk pernis,” Adrianus menambahkan.

Dalam kasus kebakaran gedung Kejakgung, Adrianus menduga, cepatnya perambatan api antara lain dipicu tidak berfungsinya sistem proteksi aktif kebakaran. “Jika sistem proteksi aktif itu berfungsi akan memperlambat kecepatan rambat api.”

Baca juga

Ditanya soal regulasi, Fire & Explosion Senior Engineer ini menyebutkan bahwa regulasi akan keselamatan gedung dari kebakaran sudah cukup banyak. Bahkan, katanya, regulasi yang mengatur standar keselamatan kebakaran pun sudah ada yaitu Permen PUPR No 26 Tahun 2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. 

Permen itu, sambung Adrianus, telah dengan detail mengatur keselamatan gedung yang kemudian diperkuat dengan beberapa Pergub DKI (Khusus DKI Jakarta). “Ini harus diikuti dan diterapkan,” tegas Adrianus. (Lutfi syawal)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 7 =


Back to top button
Close
Close