Jakarta, isafetymagazine.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) komit memperkuat pendanaan hijau melalui berbagai instrumen seperti perdagangan karbon.
Selain itu mendorong keuangan keberlanjutan melalui berbagai inisiatif kepada perusahaan tercatat dan Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon).
“Selain unit karbon, produk lain juga kami harapkan dapat mendorong pendanaan yang lebih hijau, seperti disclosure aspek keberlanjutan yang lebih baik, indeks saham bertema ESG, obligasi bertema ESG, dan konsep green equity designation,” kata Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama (Dirut) BEI, Jeffrey Hendrik di Main Hall BEI, Jakarta pada Kamis (12/2/2026).
Komitmen ini juga tercermin dari perkembangan aktivitas keuangan bertema Environment, Social, and Governance (ESG) di BEI sepanjang 2025.
Jumlah pencatatan obligasi/sukuk untuk produk Green, Social, Sustainable, and Sustainable Linked 2025 dengan total perolehan dana mencapai Rp35,5 triliun. Angka ini naik sebesar 110% dibandingkan 2024 sebesar Rp11,5 triliun.
BEI juga meluncurkan sejumlah inisiatif strategis sepanjang 2024, yakni pertama, peluncuran pelaporan ESG Metrics untuk penyampaian pelaporan tahunan, keberlanjutan, dan ESG di sistem Sarana Pelaporan Elektronik Terintegrasi (SPE-IDXNet) bagi perusahaan tercatat pada 22 Januari 2025.
Kedua, penyelenggaraan program pelatihan IDX Net Zero Incubator 2025 dan ketiga, kerja sama ESG rating dengan beberapa penyedia ESG rating global. Keempat, peluncuran website IDX Sustainability pada 20 November 2025.
Sepanjang 2025 berbagai indikator seperti volume transaksi, nilai transaksi, frekuensi transaksi, jumlah unit karbon yang retired, jumlah proyek tercatat, dan jumlah unit karbon tercatat mencatatkan pencapaian tertinggi sejak berdirinya IDXCarbon pada September 2023.
Volume transaksi tercatat sebesar 903.915 tonCO₂e sepanjang 2025 dengan nilai transaksi mencapai Rp36,37 miliar dan frekuensi transaksi sebanyak 213 kali transaksi.
Selain itu volume retirement karbon tercatat sebesar 574.324 tonCO₂e dengan peningkatan jumlah proyek Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) sebanyak sembilan proyek.
Jumlah pengguna jasa juga meningkat menjadi 150 pengguna jasa, termasuk partisipasi tujuh pengguna jasa asing. Hal ini sejalan dengan peluncuran perdagangan karbon internasional melalui IDXCarbon pada 20 Januari 2025 lalu.
IDXCarbon turut memperoleh penghargaan Best Official Carbon Exchange in an Emerging Economy 2025 dari Green Cross United Kingdom pada Juni 2025
Jeffrey Hendrik mengemukakan BEI memandang upaya dekarbonisasi perusahaan tercatat memerlukan dukungan yang konsisten dan berkelanjutan.
“Kami menyadari bahwa dekarbonisasi merupakan journey dari perusahaan. Karena itu, BEI hadir dengan program, produk, dan inisiatif yang dapat membantu perusahaan tercatat kami untuk dapat memulai dan melanjutkan proses dekarbonisasi,” ujarnya.
BEI berkomitmen untuk terus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan dan perdagangan karbon di Kawasan pada masa depan.
“Kami berharap BEI mampu mengambil bagian dalam upaya membantu Indonesia dalam mencapai target net zero… (sekaligus) mendorong green financing,” ucapnya.
BEI, ujar Jeffrey Hendrik, optimistis dapat mempercepat mobilisasi pendanaan hijau sekaligus mendukung target net zero Indonesia melalui sinergi dengan regulator, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Selain itu kembali mengambil peran strategis dalam mendorong implementasi keuangan berkelanjutan dan perdagangan karbon dengan menjadi salah satu penyelenggara Asean Climate Forum (ACF) 2026.
Forum yang diinisiasi oleh ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) dan ASEAN Alliance on Carbon Markets (AACM) terselenggara dengan dukungan BEI, Kadin Indonesia, dan Equatorise Advisory.
ACF 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga setelah forum serupa dilaksanakan pada 2023 dan 2024.
ACF merupakan forum diskusi dan dialog yang bertujuan memfasilitasi transisi energi yang berkeadilan, investasi berbasis iklim, serta penguatan ekosistem pasar karbon dan keuangan berkelanjutan.
Forum ini diharapkan dapat tercipta penyelarasan kebijakan, penguatan kolaborasi lintas sektor, dan percepatan implementasi proyek-proyek iklim di tingkat nasional maupun kawasan.
ACF 2026 turut dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air Malaysia YAB Datuk Amar Haji Fadillah bin Haji Yusof.
Kemudian, Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Republik Indonesia Hasan Fawzi, dan Pjs Dirut BEI Jeffrey Hendrik. (adm)
Sumber: Validnews