Educationi-ExpertWebinars

Resilience Kunci Menghadapi Pandemi Covid-19

Reportase Seminar Virtual New Model Aktualisasi K3: Adaptasi dari Pandemi Covid-19

ISafety, 20 Juli 2020 – Dalam masa new normal pandemi covid-19, pemerintah telah memberlakukan pelonggaran kegiatan untuk menjamin keberlangsungan perekonomian. Beberapa instansi/perusahaan mulai melaksanakan kerja dari kantor. Akibatnya, penyesuaian-penyesuaian baru di tempat kerja menjadi satu paket adaptasi yang harus diselenggarakan oleh Pemilik Usaha.

Aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi kunci penting dalam kelangsungan usaha dan perlindungan pekerja. Dapat diatasi jika ada respons global dan terkoordinasi dengan kerja sama yang kuat antara pemerintah, mitra sosial, asosiasi, organisasi, lembaga ekonomi, dan keuangan di semua tingkatan.

Screenshoot webinar
Screenshot seminar virtual

Pada tanggal 20 Juli 2020, Fakultas Teknik, Universitas Sahid Jakarta, mengadakan seminar virtual, mengusung tema ‘New Model Aktualisasi K3: Adaptasi dari Pandemi Covid-19’.

Seminar yang dilaksanakan melalui zoom meeting ini berjalan lancar dengan menghadirkan 3 expert di bidang K3 untuk mengulas hal tersebut. Antara lain Ade Kurdiman, S.T., M.K.K.K (Sekjen Asosiasi Profesi Keselamtan Pertambangan Indonesia), Soehatman Ramli, S.K.M., MBA (Presiden Direktur Prosafe Institute), dan Ir. Amri, A.K., M.M. (Dosen AKA Migas Balongan).

Seminar ini di buka oleh Dekan Fakultas Teknik Usahid, menekankan pentingnya K3 dalam masa pandemi dan di pandu oleh Dr. Ir. Djati Poetryono, M.M selaku moderator.

Dalam seminar yang di ikuti oleh 332 peserta, yang tersebar dari seluruh Indonesia ini, Ade Kurdiman yang juga bekerja sebagai  Corporate HSE Manager di PT. HPU, mengungkapkan bahwa dunia ini masih tetap dalam kondisi VUCA (Volatile, Uncertain, Complexity and Ambiguity), pun dalam kondisi pandemi sekarang.

Situasi yang penuh dengan ketidakpastian saat ini akan menyebabkan pergeseran-pergeseran, yang tidak hanya dapat menyebabkan distruption, bahkan dapat menyebabkan collaps. Di samping covid-19, kecelakaan kerja juga masih tetap menjadi perhatian karena setidaknya ILO mencatat 2.78 juta pekerja meninggal setiap tahun di seluruh dunia akibat kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Bagaimana dalam kondisi ketidakpastian kita harus terus bergerak?

Safety resilience sebagai pola pikir

Ide kuncinya adalah K3 dengan mengaktifkan mode resilience. Resilience merupakan salah satu perubahan pola pikir. Di pelopori oleh seorang senior profesor di Jönköping University, Denmark yang bernama Erik Hollnagel.

Prinsip pemikirannya adalah bagaimana dalam kondisi yang penuh ketidakpastian ini,  kita dapat menangkap peluang-peluang keberhasilan, lebih banyak melihat hal-hal positif dan tidak hanya berfokus pada kegagalan yang terjadi.

Menurut Ade Kurdiman, resilience tidak hanya sekadar konsep berpikir melainkan juga dapat menjadi suatu budaya kerja.

Disesi kedua Narasumber Soehatman Ramli yang juga menjabat sebagai Direktur WSO Indonesia mengatakan bahwa covid-19 membawa dampak yang luas bagi masyarakat termasuk kelangungsungan dunia bisnis. Perlunya perubahan mendasar untuk menanggapi hal tersebut. Sistem Manajemen K3 merupakan salah satu hal yang perlu menjadi perhatian. Sebagaimana 6 syarat yang di keluarkan WHO, sebenarnya hal tersebut sudah termaktub di dalam SMK3.

Soehatman Ramli menjelaskan bahwa SMK3 ibarat sebuah tameng, dimana tameng ini lah yang digunakan oleh kita untuk memastikan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja terpenuhi. Ahli K3 harus menganalisa risiko selanjutnya dibuatlah program berdasarkan elemen-elemen yang ada di SMK3.

SMK3 sebagai tameng
SMK3 sebagai tameng dalam menghadapi pandemi

Sebagai contoh aplikasi kebijakan manajemen dalam SMK3. Kita dapat menetapkan kebijakan dan komitmen manajemen untuk menghadapi pandemi Covid-19, selanjutnya dibangun keterlibatan semua pihak-pihak terkait dan membentuk tim untuk menghadapi kondisi pandemi yang dapat mengancam kelangsungan operasi dan keselamatan pekerja.

Lebih lanjut, dalam new era, dunia usaha dihadapkan berbagai macam tantangan yang mengganggu kelangsungan bisnis. Olehnya, perlu menerapkan SMK3 dalam setiap kegiatan yang mencakup analisa risiko juga melakukan mapping risiko. Menjadikan SMK3 sebagai tameng, agar dapat membudayakan K3 di seluruh sendi-sendi kehidupan. Salah satu cara dengan membuat agen-agen perubahan di masyarakat, agen-agen inilah yang diharapkan dapat menjadi virus-virus kebaikan untuk menularkan pemahaman-pemahaman akan pentingnya K3.

Di sesi terakhir, sebagai mantan direktur pengawasan norma K3 direktorat jendral PPK dan K3 kemenaker RI, Ir. Amri A.K, M.M., mengungkapkan usaha-usaha K3 diterapkan untuk menekan risiko kerugian. Aspek penting selain yang dipaparkan oleh panelis sebelumnaya adalah dengan menyusun rencana kelangsungan bisnis (RKB) perusahaan dengan 7 tahapan, sesuai dengan surat edaran menteri ketenagakerjaan RI. Tujuannya adalah mengurangi Penyebaran Pandemi covid-19 dan tetap mempertahankan kelangsungan bisnis (produktivitas).

Tahapan BCP
7 tahapan BCP sesuai surat edaran menteri tenaga kerja

Benang merah dari pemaparan para panelis adalah dibutuhkan daya ketahanan (resilience), di mulai dari konsep pemikiran untuk tetap bertahan di masa pandemi dengan secara aktif melihat peluang-peluang positif, mempergunakan SMK3 sebagai tameng, yang mana elemen-elemen SMK3 terdapat perihal menanggapi situasi darurat, kemudian hal inilah yang di terjemahkan untuk menyusun rencana kelangsungan bisnis (BCP).

Selamat ber-K3 (Komunikasi, Koordinasi dan Kolaborasi) untuk menekan angka kecelakaan dan kasus covid-19 di masyarakat, juga di perusahaan untuk mencapai budaya K3 yang excellent.

Semoga bermanfaat! (ISafety/A.B.A.C.)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 1 =


Back to top button
Close
Close