Tawarkan Pengelasan Berbasis Virtual Reality, Intan Sukses Globalindo Kurangi Risiko Percikan Api

Kualitas pengelasan yang konsisten berkontribusi pada praktik industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Jakarta, isafetymagazine.com – Intan Sukses Globalindo (ISG) memperkenalkan teknologi simulasi pengelasan berbasis virtual reality (VR) sebagai sarana edukasi tanpa risiko percikan api dan paparan panas ekstrem bagi mahasiswa teknik, pemula yang baru belajar, dan welder profesional.

Manager Marketing PT Intan Pertiwi Industri, Justin Djaja mengatakan pengunjung dapat merasakan sensasi mengelas secara aman dan presisi, tanpa risiko percikan api dan cacat las.

“Ada banyak tipe penetrant Taseto Color Check. Biasanya setelah pengelasan, dengan produk ini bisa terlihat jika ada percikan, cacat, atau indikasi retak yang tidak kasat mata,” katanya pada Selasa (16/12/2025).

Teknologi ini sempat didemokan dalam ajang Manufacturing Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta pada Rabu (3/12/2025) hingga Sabtu (6/12/2025).

Demo kawat las memberikan gambaran tentang stabilitas arc, kualitas bead, dan elektroda KOBELCO saat digunakan dalam aplikasi pengelasan di industri. Selain itu produk las dari Jepang.

ISG juga menghadirkan MIG-56 Solid Wire, produk kawat las MIG yang dirancang untuk aplikasi pengelasan di sektor manufaktur, otomotif, alat berat, hingga fabrikasi umum.

Produk tersebut melengkapi portofolio solusi pengelasan bagi pelanggan yang membutuhkan hasil pengelasan produktif dengan kualitas bead yang konsisten.

Fokus utama pemasaran perusahaan saat ini adalah memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Pemasaran kami spesifik lebih ke domestik, kami tidak melakukan penjualan ke luar negeri. Dari PT Intan Pertiwi Industri (Intiwi) kami menghadirkan produk kawat las SMAW atau elektroda tongkat untuk berbagai aplikasi pengelasan,” ujarnya.

Ragam sektor industri produk kawat las digunakan di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur hingga industri berat.

Kualitas hasil pengelasan menjadi faktor menjaga efisiensi produksi sekaligus menekan risiko pekerjaan ulang yang dapat menambah konsumsi material dan energi.

“Kawat las itu hampir di semua bidang dipakai, contohnya di pabrik, pembangunan gedung, mesin mobil, perbaikan dump truck, bahkan di sektor makanan juga digunakan untuk pengelasan peralatan dan fasilitas produksinya,” tuturnya.

Justin Djaja mengemukakan kualitas menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar dengan standar seleksi yang ketat.

Langkah ini diterapkan memastikan setiap produk memenuhi kebutuhan keselamatan dan keandalan industri.

“Kami sangat menekankan kualitas. Bisa kami jamin 100 persen, kualitas kami tidak bisa ditandingi kompetitor lain,” ucapnya.

“Proses seleksinya ketat, ada sedikit saja yang tidak sesuai standar, kami tidak akan menjualnya. Jadi dari awal kami memang fokus pada kualitas.”

Kualitas pengelasan yang konsisten berkontribusi pada praktik industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Material yang terpasang dengan baik sejak awal akan mengurangi risiko kegagalan, memperpanjang masa pakai komponen, dan menekan limbah produksi.

Justin berharap ISG dapat semakin dekat dengan para pengguna melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan.

“Harapan kami ke depan adalah lebih banyak mengedukasi customer. Karena merek kawat las itu banyak sekali, tapi tidak semuanya memahami fungsinya apa, untuk aplikasi apa, tipe apa yang tepat, dan yang terpenting kualitasnya harus benar-benar terjamin,” ucapnya.

Dengan kombinasi teknologi, edukasi, dan pengendalian mutu, praktik pengelasan diharapkan dapat terus berkembang seiring dengan kebutuhan industri yang menuntut keselamatan kerja, efisiensi, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan. (adm)

Sumber: kompas.com

Exit mobile version