Keselamatan

K3 Berbasis AI Memposisikan Sebagai Human Centric, Sebagai Mitra Manusia Bukan Pengganti

Pekerja jika berteriak dapat dipahami oleh mesin dan menyampaikan pesan insiden kepada tim K3 di dalam perusahaan.

Jakarta, isafetymagazine.com – Pakar Transformasi Digital, Riri Satria menilai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada era industri 5.0 semakin dinamis.

Hal ini disertai peningkatan mutunya berbasis teknologi artificial intelligence/AI (kecerdasan buatan), tapi memposisikan sebagai human centric (manusia sebagai pusatnya).

“Teknologi harus menjadi mitra manusia, bukan pengganti. AI berfungsi memperluas kemampuan manusia dalam mendeteksi, memahami, dan merespons risiko keselamatan kerja secara lebih cepat, akurat, dan berkelanjutan,” katanya.

Pernyataan ini disampaikannya dalam ‘OSH Asia’s Summit 2025’ bertajuk ‘OSH Management in the Age of Artificial Intelligence (AI)’ yang digelar di Bali. Dia mempresentasikan materi berjudul ‘OSH Management in the Age of Artificial Intelligence (AI)’.

Riri Satria mengemukakan Revolusi Industri 5.0 ditandai dengan keseimbangan antara teknologi canggih dan nilai kemanusiaan atau high tech high (human) touch seperti yang diungkapkan John Naisbitt.

“Keselamatan kerja kini bukan hanya melindungi pekerja dari kecelakaan, melainkan menciptakan ekosistem kerja yang sehat, inklusif, serta tangguh menghadapi disrupsi,” ucapnya.

Ada dua pergeseran fokus, pertama praktik K3 bergeser dari korektif (memperbaiki) ke preventif (mencegah). Dari sekedar fokus kecelakaan kerja (accident) ke kenyamanan (confortmity).

“AI memungkinkan pendekatan baru dalam K3—dari korektif ke preventif, serta dari accident focus ke conformity focus,” ujarnya.

“Sistem berbasis data real-time yang diolah dengan pendekatan data science mampu memberi peringatan dini, memitigasi risiko, hingga mempercepat pemulihan organisasi saat terjadi gangguan. Namun syarat utamanya adalah ketersediaan data itu sendiri.”

Riri Satria mengemukakan K3 berbasis AI tidak bisa berdiri sendiri, karena harus menjadi bagian dari transformasi digital organisasi melalui integrasi model bisnis, proses kerja, tata kelola teknologi, hingga budaya organisasi yang menempatkan keselamatan sebagai nilai inti.

Beberapa bentuk penggunaan AI dalam K3 yang sangat kritikal, yaitu preventive maintenance berupa pemantauan kondisi peralatan dengan sensor IoT sehingga potensi kerusakann dapat diketahui sejak dini dan tak sampai mejadi insiden.

“Lalu mitigasi risiko berupa pemetaan risiko dinamis sesuai dengan perkembagan situasi, eliminating disruptions atau analisis dampak insiden untuk mempercepat pemulihan atau recovery,” ujarnya.

Jika dulu inspeksi manual yang dilakukan manusia terhadap potensi inside K3 seperti kecelakaan kerja sangat rentan bias, lambat, dan terbatas, maka kini AI menghadirkan pemantauan yang terus menerus atau 24/7.

“Mampu melakukan analisis prediktif lebih cepat dan akurat, serta berbagai rekomendasi berbasis data atau kondisi riil di lapangan,” ucapnya

Riri Satria mengemukakan AI memperkenalkan ‘bahasa keselamatan baru’ yakni di mana manusia, mesin, dan algoritma dapat berinteraksi dalam ekosistem kerja yang lebih aman dan efisien.

Pekerja jika berteriak dapat dipahami oleh mesin dan menyampaikan pesan insiden kepada tim K3 di dalam perusahaan.

“Implementasi AI dalam manajemen K3 menuntut literasi digital bagi pekerja dan manajemen perusanaan, memiliki tata kelola teknologi dan data yang akuntabel, serta budaya organisasi yang adaptif dengan literasi digital tinggi yang dikenal dengan sebutan digital culture,” ucapnya.

Namun, tantangannya seperti bias data, false alarm, hingga isu privasi pekerja tetap menjadi catatan penting.

“Keputusan akhir harus tetap berada di tangan manusia. Human-in-the-loop adalah prinsip utama agar K3 berbasis AI tetap human-centric,” ucap Riri Satria. (adm)

Sumber: ririsatria.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button