Environment

Pakai Fly Ash Bottom Ash Tahun Lalu, Bagian dari PLN Terapkan ESG

PLN bekerja sama dengan Japan Carbon Frontier Organization (JCOAL) untuk studi dan inovasi Granulated Coal Ash (GCA).

Jakarta, isafetymagazine.com – Perusahaan Listrik Negara (PLN) memanfaatkan Fly Ash Bottom Ash (FABA) sebesar 3,44 juta ton atau 103,46% dari total produksi FABA pada 2025.

Penggunaan atau abu sisa pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara berkelanjutan merupakan bagian dari penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).

Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengatakan pemanfaatan FABA tidak hanya solusi pengelolaan residu pembakaran batu bara.

Namun, ini juga menjadi instrumen dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekonomi masyarakat.

Produk-produk pengolahan FABA PLN yang semakin beragam telah dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di berbagai sektor dan masyarakat sekitar pembangkit listrik.

“Kami memandang FABA sebagai sumber daya yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatannya tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, namun juga mendorong terciptanya lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, serta mendukung pembangunan infrastruktur nasional,” kata Darmawan Prasodjo pada Senin (2/2/2026).

Pemanfaatan FABA oleh PLN sepanjang 2025 mencapai kenaikan sebesar 2,44% ketimbang tahun sebelumnya dengan total 3,40 juta ton. Sejak 2023 pemanfaatan FABA terus meraih peningkatan seiring pemanfaatan FABA sebagai limbah non-B3.

“Kondisi ini menunjukkan pengelolaan FABA PLN semakin terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memastikan tidak ada lagi penumpukan residu pembangkitan yang berpotensi berdampak pada lingkungan,” ucapnya.

Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero), Rizal Calvary Marimbo menambahkan sekarang pemanfaatan FABA PLN Group juga telah memberikan kontribusi bagi penurunan emisi gas rumah kaca.

Sampai Desember 2025 total pengurangan emisi dari pemanfaatan FABA mencapai 166.472 ton CO2 yang berasal dari substitusi semen, subgrade/lapisan dasar jalan, beton pracetak, dan beton ready mix.

“Saat ini PLTU di lingkungan PLN Group telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 300 pengguna FABA, yang terdiri dari badan usaha berizin, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah daerah, TNI/Polri, kelompok masyarakat, hingga lembaga pemasyarakatan di sekitar PLTU,” tuturnya.

Pemanfaatan FABA skala industri dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pelaku usaha. Salah satunya adalah kerja sama pemanfaatan FABA sebagai bahan baku semen Portland Composite Cement (PCC).
Di sektor pertambangan, PLN melalui PLTU Ombilin juga bekerja sama dengan perusahaan tambang di Sumatera Barat (Sumbar) dalam pemanfaatan FABA.

Hingga Desember 2025, total 251.406 ton FABA PLTU Ombilin telah dimanfaatkan sebagai penetralisir air asam tambang.

Rizal Calvary Marimbo meneruskan pemanfaatan FABA terus mencapai peningkatan dan meluas di berbagai sektor seperti produk konstruksi. Selain itu pemanfaatan FABA juga semakin masif dilakukan di sektor pertanian.

Langkah ini juga didukung regulasi dan standardisasi nasional dari Pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN). Contohnya, Standar Nasional Indonesia (SNI) 9387:2025 FABA sebagai Pembenah Tanah dan Bahan Baku Pupuk.

“Ini membuka peluang baru, tidak hanya menjaga lingkungan dan menjadi solusi atas pengelolaan limbah, namun juga mendukung peningkatan produktivitas pertanian nasional secara berkelanjutan,” ucapnya.

Pada sisi lain PLN bekerja sama dengan Japan Carbon Frontier Organization (JCOAL) untuk studi dan inovasi Granulated Coal Ash (GCA).

Hal itu adalah produk turunan FABA berbentuk butiran yang dapat digunakan sebagai penjernih air maupun substitusi agregat kasar untuk pemulihan ekosistem air.

Pada 2026 akan dilakukan mock up test dan uji implementasi di sungai (field test) bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Produk ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas air yang saat ini semakin turun karena pengayaan nutrisi akibat dampak limbah pertanian, industri dan domestik pada badan sungai. (adm)

Sumber: Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button