Safety Management

Crowd Management Plan Mesti Diketahui Semua Panitia dan Peserta Event

Sebelum event dimulai oleh penyelenggaranya, pihak ini juga harus mengomunikasikan kepada penonton

Surabaya, isafetymagazine,com – Penyelenggara event diminta menerapkan crowd safety management plan (manajemen keselamatan di kerumunan) dengan tiga aspek yaitu identifikasi event, pengendalian event, dan pengkomunikasian resiko bahaya-bahaya suatu event.

“Jadi yang pertama kita identifikasi dulu, misalkan kita mau menyelenggarakan konser musik, bagaimana sih resiko yang mungkin dapat terjadi ketika kita akan menyelenggarakan konser, misalkan seperti terjadinya kerumunan, aksi anarkis atau mungkin terjadinya kebakaran semua harus dianalisis resikonya,” kata staf pengajar departemen keselamatan dan kesehatan kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Putri Ayuni, S.KM., M.KKK di salahsatu radio swasta di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) belum lama ini.

Dari identifikasi ini dilanjutkan oleh penyelenggara harus kembali mengidentifikasi apa saja bahaya dan risiko yang dapat dikendalikan seperti jika terjadi kebakaran, apakah penyelenggara event bisa menyiapkan fire truck (truk pemadam kebakaran)

“Kemudian dari aksi anarkis mungkin dapat dikendalikan oleh pihak kepolisian atau petugas keamanan. Semua detail tersebut harus disiapkan oleh pihak penyelenggara,” ucapnya.

Putri Ayuni meneruskan penyelenggara event mesti mengomunikasikan bahaya dan risiko hal ini kepada seluruh tim panitia penyelenggara event.

“Tim penyelenggara event, ini yang sering kali lupa, misalkan kita sudah mengidentifikasi, kalau kemungkinan terjadi kebakaran, ini artisnya di bawa kemana, pengunjungnya dibawa kemana, penyelenggaranya sendiri kadang tidak mengerti,” ujarnya.

Selain itu sebelum event dimulai oleh penyelenggaranya, pihak ini juga harus mengomunikasikan kepada penonton yang hadir terkait dengan keselamatan di tempat kegiatannya.

Hal ini terkait pintu keluar, tangga, hingga toilet letaknya.

“Kemudian kalau ada kebakaran evakuasinya kemana itu semua harus dikomunikasikan,” ujarnya.

Setiap orang yang akan mengikuti atau menonton sebuah event, ujar Putri Ayuni, juga harus mengenali kemampuan diri sendiri seperti apakah berpenyakit asma atau takut dengan kegelapan yang akan jauh lebih berisiko ketika di kerumunan.

“Kita juga bisa belajar dari kejadian Itaewon kemaren, kalau kita baca-baca katanya orang yang memiliki postur tubuh yang pendek lebih susah mencari nafas,” jelasnya.

Putri Ayuni mengemukakan untuk mengenali tanda-tanda akan terjadi kerumunan di sebuah event, masyarakat dapat melihat dari segi kesiapan penyelenggara, kapasitas penonton, dan kelegaan saat menonton.

Jangan sampai tiket yang terjual melebihi kapasitas seperti Tragedi Kanjuruhan. Kapasitas orang duduk lega atau tidak, berdiri lega atau berdiri berdesak-desakan

“Kita harus tau bahwa ada kelegaan saat menonton, kalau dilihat di kejadian Itaewon kemarin sangat mepet-mepet dan tidak ada jalur nafas,” tuturnya. (rss/adm)

Tampilkan Lebih

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

Back to top button