Safety Management

7 Orang Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Kenpark Surabaya

Sebagian dari 17 korban peristiwa seluncuran ambruk Kenpark Surabaya mengalami cacat permanen

Surabaya, isafetymagazine.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya kembali memeriksa dua orang sebagai saksi pada Kamis (12/5/2022).

Tindakan ini terkait peristiwa seluncuran ambuk Kenjeran Park (Kenpark) Surabaya, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (7/12/2022).

“Hari ini ada tambahan pemeriksaan, tambahan dua saksi yaitu dari pihak manajemen,” kata  Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya AKP Arief Rizki Wicaksana pada Kamis (12/5/2022) malam.

Sebelumnya, lima orang juga diperiksa sebagai saksi yang merupakan manajemen Kenpark Surabaya yang mengurusi perawatan wahana seluncuran tersebut. Langkah ini guna mengetahui apa penyebab seluncuran ambruk Kenpark.

.“Lima saksi itu, tiga dari korban, dua dari manajemen. Hasil pemeriksaan sementara, kita masih menanyakan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan perawatan waterpark itu sendiri Itu ke pengelola,” ujarnya.

Dengan demikian, total tujuh orang telah diperiksa  Polres Pelabuhan Tanjung Perak menyelidiki seluncuran ambuk Kenpark.

Seluncuran ambruk Kenpark Surabaya berakibat 17 korban terluka yang dibawa ke dua rumah sakit yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr, Soetomo dan RSUD dr. Soewandhie.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Anton Elfrino menambahkan para saksi yang dipanggil untuk dimintai keterangan terkait seluncuran ambruk Kenpark Surabaya. Mereka adalah korban, pegawai, dan manajemen dari wahana seluncuran tersebut.

“Untuk kepentingan penyelidikan sementara ditutup dahulu wahananya, kami sudah periksa lima orang pasca kejadian,” ucapnya.

Sementara itu sebagian dari 17 korban peristiwa seluncuran ambruk Kenpark Surabaya mengalami cacat permanen seperti seorang perempuan berinisial S (17) mengalami ini di kedua kakinya. 

Dia merupakan satu dari tiga korban yang mengalami cacat dari anak-anak yang dimiliki seorang ayah yang berinisial AM. Kejadian ini telah dilaporkan kepada Kenpark Surabaya untuk bertanggungjawab.

“Saya sudah minta dipindahkan ke kamar lebih baik supaya lebih fresh dan hiburan,” ucapnya.

S masih menjalani perawatan di RSUD dr, Soetomo yang belum mengetahui jika kedua kakinya dinyatakan cacat permanen. Hal in belum disampaikan ayahnya lantaran dia tak tega menyampaikan hal tersebut kepadanya.

“Belum siap mental. Kalau dikasih tahu nangis. Apalagi lingkungan yang mempengaruhi,” ujarnya.

Kakaknya juga mengalami patah kaki kiri dan belum bisa digerakkan secara baik, tapi dokter sudah melakukan pelatihan dasar agar kakinya berfungsi seperti semula.

“Butuh alat bantu sandaran yang digunakan untuk duduk. Harganya Rp1.250.000 dan sudah dibantu Kenpark,” ujarnya.

AM bisa sedikit lega lantaran anak bungsunya yang berjenis kelamin laki-laki sudah diizinkan pulang ke rumah sejak kemarin sore.

“Tanganya patah, tetapi dipulangkan kemarin sore,” ujarnya.

Direktur Utama (Dirut) RSUD dr Soetomo, dr Joni Wahyudi mengemukakan pihaknya tidak bisa mengungkapkan secara rinci kondisi korban seluncuran ambruk Kenpark Surabaya.  Pasalnya, itu merupakan bagian dari kode etik pasien.

“Tidak boleh saya menyampaikan ke publik ini kan kode etik pasien. Jadi, intinya sudah kami tangani,” tuturnya. (bjt/adm)

Tampilkan Lebih

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

Back to top button