ISAFETYNEWS

Health

Iman, Aman, Imun, dan Amin

Membangun budaya keselamatan (safety culture) bagi setiap individu, masyarakat, dan negara.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin mengkampanyekan suatu perubahan perilaku yang dinilai penting guna menghadapi pandemi Covid-19. Beliau menamakan kampanye ini berupa Iman, Aman, Imun, dan Amin (IAIA) untuk menjalani kehidupan pada era kenormalan baru.

Covid-19 telah merenggut kematian belasan ribu jiwa manusia di Indonesia termasuk lebih dari 300 tenaga kesehatan yang mengorbankan nyawanya untuk menolong sesama.

Dari perspektif keselamatan kesehatan kerja (K3), pandemi Covid-19 dapat dihadapi dengan  menggunakan pendekatan analisa risiko. Virus ini adalah sumber bahaya biologis (biological hazards). 

Covid-19 tidak terlihat, tidak terasa, tidak terbau, dan tidak teraba, sehingga siapapun tidak mampu mendeteksinya. Apakah ini berada di sekitar tubuh manusia atau sudah masuk ke dalamnya.  

Untuk menghadapi Covid-19 hanya terdapat satu cara yakni menjaga diri tidak terkontaminasi makhluk ini dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes). Langkah itu berupa pertama, menjaga jarak dari sumber virus ini sekitar 1,5 meter-2 meter.

Kedua, memakai alat pelindung diri (APD) seperti masker dan faceshield untuk mencegah Covid-19 masuk ke dalam tubuh. Ketiga, mencuci tangan dan mandi supaya virus itu tidak melekat di tubuh.

Prokes telah mengikuti kaidah pencegahan kecelakaan yang dikenal dengan konsep hirarki pengendalian risiko yaitu Eliminasi-Subsitusi-Isolasi-Enjinering-Administratif dan APD.  Hirarki ini dapat kita jalankan sesuai dengan kondisi dan tingkat risikonya.

Langkah optimal yang bisa dipilih dari konsep tadi adalah teknik Eliminasi dengan memusnahkan Covid-19 dari muka bumi. Namun, sampai saat ini belum ditemukan teknik terbaiknya, maka dapat dilakukan teknik berikutnya yaitu Substitusi.

Apabila teknik Substitusi sulit diaplikasikan, maka bisa ditempuh teknik selanjutnya yaitu isolasi. Berbagai langkah dapat dipilih yakni karantina, lockdown, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), atau mandiri.

Dengan demikian Covid-19 tidak menyebar ke sekitarnya yang diteruskan dengan melakukan teknik engineering, yaitu mengatur jarak, membuat sekat pembatas, dan menetapkan zona-zona bahaya.

Pemerintah sedang mengembangkan vaksin untuk memperkuat daya tahan manusia agar tidak terserang oleh Covid-19. Sebelumnya, tingkat imunitas tubuh dapat ditingkatkan dengan mengkonsumsi makanan sehat, gizi, dan vitamin.

Kebijakan tadi dapat dilanjutkan dengan menjalankan konsep administratif berupa mengendalikan kerumunan manusia dan bekerja dari rumah.

Kemudian, membatasi kegiatan yang mengudang massa, membatasi jam kerja, membatasi kegiatan tatap muka, dan melakukan test PCR.

Terakhir, penggunaan APD berupa masker dan face shield yang wajib dipakai pada setiap kegiatan. Dengan pelaksanaan semua pendekatan tadi diharapkan menekan penyebaran Covid-19 dan menambah daya tahan tubuh manusia.

Dari berbagai langkah di atas yang paling utama adalah membangun budaya keselamatan (safety culture) bagi setiap individu, masyarakat, dan negara.

Saat itu dibutuhkan konsep perubahan perilaku bisa berperan di masyarakat yang telah menjadi salah satu program pemerintah.

Hal ini telah dilakukannya dengan membentuk bagian khusus bernama perubahan perilaku dalam Gugus Tugas Covid-19 yang dipimpin oleh Sonny Harry B. Harmadi.

Bagian perubahan perilaku bertugas membangun dan mengembangkan budaya keselamatan menghadapi Covid-19.

Mereka akan merubah perilaku manusia dari budaya reaktif menjadi dependen, berkembang menjadi independen yang berujung menjadi budaya interdependen. Saat itu IAIA berperan mengawalnya.

Dari konsep IAIA dapat disadari bahwa Covid-19 adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (YME). Jadi, kehadiran jasad renik ini sudah diatur-Nya.

Dengan demikian, semua manusia harus memperkuat keimanan diri masing-masing. Jadi, Covid-19 mesti diyakini dapat dihindari dari tubuh manusia dengan ijin Tuhan Yang Maha Kuasa.

Semua manusia juga harus yakin bahwa musibah apa saja yang menimpanya atas kehendak-Nya. Jadi, ini perlu dihadapi dengan meningkatkan iman sesuai kepercayaan masing-masing.

Kemudian, manusia juga harus menciptakan kondisi yang aman dari Covid-19 dengan menerapkan pengendalian diri. Langkah yang dimaksud antara lain menjaga jarak, isolasi, pengendalian administratif, menggunakan APD setiap waktu.

Terakhir, manusia bisa menjaga tubuh agar imun terhadap Covid-19 dengan meningkatkan daya tahan diri masing-masing. Hal ini ditempuh dengan mengkomsumsi makanan bergizi dan vitamin.

Jika vaksin Covid-19 sudah tersedia bagi publik, maka perlu melakukan vaksinasi secara mandiri atau subsidi pemerintah.

Terakhir, manusia harus berdoa kepada Tuhan YME sesuai kepercayaannya masing-masing agar diberi keselamatan dan perlindungan dari bahaya Covid-19. Apabila, kita harus terjangkit Covid-19, maka dapat disembuhkan dan sehat seperti sediakala

Dengan menerapkan empat prinsip tadi secara bersama-sama, maka pandemi Covid-19 dapat dikendalikan di Tanah Air. Bahkan, kehidupan sehari-hari akan kembali normal, bahkan mungkin akan meningkat di masa depan. Ingat selalu IAIA. (WSO Indonesia Representative, Soehatman Ramli)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 + 1 =


Back to top button
ISAFETYNEWS

Close