Jakarta, isafetymagazine.com – Penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan kesehatan mental sebagai salah satu topik yang paling banyak dicari pengguna internet melalui mesin pencarian Google.
Tren ini kali pertama terlihat pada akhir 2019 dan awal 2020 merupakan periode awal pandemi Covid-19.
“Ketertarikan pencarian terkait topik ini terus meningkat, hingga mencapai lonjakan signifikan pada awal 2021, mengindikasikan peningkatan tingkat stres masyarakat akibat pandemi yang melanda,” tulis Riset CNBC Indonesia pada Selasa (23/12/2025)
Namun, rasa ingin tahu masyarakat terhadap topik ini tetap tinggi setelah pandemi Covid-19 berakhir.
Fenomena ini menunjukkan semakin tinggi kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental.
“Kesehatan mental menjadi isu yang memerlukan perhatian serius dan mendesak untuk ditangani,” ujarnya.
Fenomena ini menjadi semakin kompleks karena beberapa kelompok masyarakat ternyata berada dalam posisi yang lebih rentan terhadap isu kesehatan mental.
Penelitian BPS menyebutkan orang-orang dengan gangguan perilaku dan emosional berasal dari kelompok sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti pekerja sektor pertanian dan pertambangan.
Selain itu individu dengan pendidikan tertinggi di tingkat dasar, penduduk desa, dan mereka yang memiliki masalah atau kekhawatiran terkait ketersediaan makanan.
“Kerentanan kelompok pekerja pertanian dan pertambangan tidak lepas dari fenomena pergeseran struktural pasar tenaga kerja, dari labor-intensive seperti sektor pertanian dan pertambangan menjadi skill-intensive seperti sektor industri dan jasa,” ujarnya.
Kondisi ini membuat pekerja di sektor pertanian dan pertambangan memiliki kesejahteraan yang lebih rendah dibanding pekerja di sektor lainnya seperti jasa.
BPS juga mencatat semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin kecil persentase individu tersebut memiliki masalah perilaku dan emosional.
Jadi, individu dengan pencapaian pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap masalah kesehatan mental.
Hal ini berkaitan dengan hubungan antara tingkat pendidikan dengan kualitas pekerjaan dan tingkat kesejahteraan individu.
Wilayah tempat tinggal juga berkontribusi terhadap kondisi kesehatan mental seseorang.
Data BPS menunjukkan persentase individu dengan masalah perilaku dan emosional lebih tinggi di kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah perdesaan.
Padahal, banyak pihak yang menganggap bahwa kehidupan di perkotaan lebih berat hingga memicu masalah kesehatan mental, namun data justru menunjukkan hal sebaliknya.
Kondisi ini diperkirakan muncul akibat pemahaman masyarakat desa rendah tentang kesehatan mental, dan fasilitas kesehatan mental rendah di perdesaan.
BPS juga menunjukkan indikasi ketimpangan akses layanan kesehatan mental di Indonesia.
Wilayah perdesaan dan Indonesia Timur masih memiliki rasio fasilitas kesehatan mental rendah, sehingga individu yang rentan semakin terisolasi.
Aspek lain seperti jenis kelamin, struktur keluarga, tingkat religiusitas, dan durasi jam kerja berperan memengaruhi kondisi kesehatan mental seseorang. (adm)
Sumber: CNBC Indonesia














