EducationEvent HSEFeaturedOHSPress Release

Sejauh Mana Peran Perusahaan dalam Mendukung K3?

CIBITUNG, isafetymagz.com – Kasus-kasus kecelakaan kerja di Indonesia masih terbilang tinggi. Data dari BPJS Ketenagakerjaan menyebutkan, setiap tahunnya angka kecelakaan kerja di Indonesia mencapai rata-rata 100.000 kasus dengan kejadian fataliti yang juga tinggi.

ILO, beberapa tahun lalu lewat surveynya dalam IMD Competitiveness Yearbook, bahkan menempatkan Indonesia di urutan ketiga terbawah di atas Zimbabwe dan Rusia dengan index kematian akibat kecelakaan 17-18 fataliti per 100.000 pekerja.

Selama ini angka kecelakaan kerja di Indonesia bersumber dari BPJS Ketenagakerjaan, yang notabene didasarkan atas klaim yang diajukan para pesertanya yang mengalami kecelakaan dan perawatan. Atas dasar ini, angka kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Indonesia diyakini jauh lebih besar dari angka yang setiap tahun dirilis BPJS Ketenagakerjaan.

Perlu langkah konkret dan sinergi dari berbagai pihak dalam upaya mendukung K3 di Indonesia. Tidak saja meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, tetapi sekaligus juga meningkatkan daya saing global yang semuanya akan bermuara pada kemajuan bangsa demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Untuk itulah, sejak awal 2019, World Safety Organization (WSO) Indonesia gencar menggelar acara diskusi yang rutin digelar setiap bulan dengan menggandeng berbagai pihak seperti DK3N. Kali ini, WSO Indonesia menggandeng kalangan pengusaha di Bekasi yang tergabung dalam APPINDO Bekasi menggelar acara Bincang Bincang Keselamatan (BBK) VI dengan tema “Peran Perusahaan dalam Mendukung K3” di Conferrence Room, PT MMID, kawasan MM2100, Cibitung, Kab Bekasi, Jawa Barat, Senin, 29 Juli 2019.

 

Sejumlah pembicara yang ahli di bidangnya masing-masing dihadirkan. Mulai dari kalangan pemerintah selaku regulator, praktisi, akademisi, hingga perusahaan. Antara lain Dr Tjepy F Alluway (expert); Ir Alvin Alfiansyah (expert); Masjuli (akademisi); Subkhan dari PT Waskita Karya (praktisi/BUMN Karya); Sutomo (pengusaha/Ketua Appindo Kab Bekasi), dan tentu saja Soehatman Ramli (chairman WSO Indonesia). Diskusi dipandu oleh Edy Suprianto (expert/Sekjen WSO Indonesia).

Sharing Waskita Karya

Dari diskusi yang berlangsung sehari ini, ada hal menarik yang diungkap Subkhan, ST, MPSDA dari Waskita Karya. Dalam presentasinya, SVP Divisi QHSE PT Waskita Karya (Persero) Tbk ini mengatakan, di sektor jasa konstruksi, K3 sebagai roh operasional pendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi, sekaligus sebagai value untuk keberlanjutan perusahaan yang bisa ‘merontokkan’ jabatan jika tidak dijalankan dengan baik dan semestinya.

Subkhan kemudian mencontohkan ketika kecelakaan konstruksi menimpa beberapa proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan Waskita dan terjadi secara beruntun. Meski tak terkait langsung sebagai penyebab terjadinya kecelakaan kerja, jajaran direksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk harus menerima konsekuensi jabatan sekalipun semua target bisnis sesuai RKAP tercapai seperti kenaikan laba yang menjadi kenaikan terbesar di BUMN Karya, pendapatan, nilai asset, dll.

“Hal itu menjadi bukti bahwa K3 adalah kunci dan punya posisi strategis dalam penilaian kinerja sebuah perusahaan dan CEO-nya. K3 dan Safety kini sudah masuk dalam KPI di jajaran BoD Waskita Karya,” kata Subkhan yang disambut gemuruh tepuk tangan para peserta BBK VI.

SVP Divisi QHSE PT Waskita Karya (Persero) Tbk Subkhan, ST, MPSDA

Tak hanya berdampak secara politis (pencopotan jajaran direksi), K3 juga bisa mempengaruhi pergerakan saham. Sebagai perusahaan publik, kata Subkhan, setiap kecelakaan konstruksi terjadi dan menjadi viral di masyarakat, nilai saham PT Waskita Karya (WSKT) di lantai bursa saham, anjlok Rp50 dalam waktu 5 menit. “Bayangkan, jika ada 11 miliar lembar saham, berapa kerugian yang diderita hanya dalam waktu 5 menit saja,” katanya.

Subkhan lantas menceritakan ketika dirinya dipromosikan menduduki jabatan SVP Divisi HSE (per Maret 2019 menjadi Divisi QHSE) di Waskita Karya. Hal pertama yang diminta Direksi adalah membuat komitmen K3 dengan para pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja (SP) Waskita Karya.

Menurut Subkhan, K3 dan Mutu serta Lingkungan (QHSE) kini sudah menjadi komitmen di PT Waskita Karya (Persero) Tbk mulai dari top management hingga ke bawah. Pihak Waskita juga sudah lama menerapkan berbagai sistem terkait K3, Lingkungan, dan Mutu (K3LM).

Tetapi bagi perusahaan jasa konstruksi seperti Waskita, adanya penerapan berbagai sistem terkait K3LM ditambah komitmen yang tinggi dari seluruh jajaran, tidak lah cukup. Sebab, kata Subkhan, konstruksi melibatkan banyak pihak.

“Mulai dari tingkat mitra kerja atau subkon hingga ke pekerja di proyek yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan mayoritas berpendidikan rendah. Ini tantangan terbesar di sektor konstruksi, bagaimana K3 terimplementasi dengan baik dan benar hingga ke seluruh pekerjanya yang jumlahnya jutaan orang,” kata Subkhan.

Di lain pihak, pihaknya juga dituntut untuk menyelesaikan seluruh proyek infrastruktur yang terkategori Proyek Strategis Nasional (PSN) tepat waktu dan tepat mutu. Dalam upaya mempercepat proses budaya K3 dalam seluruh proyeknya, Waskita Karya pada Juli 2018 merekrut TNI yang akan memasuki masa pensiun sebagai tenaga HSE Inspector.

“Mereka yang kami rekrut berasal dari kesatuan elit di Angkatan Darat dan Angkatan Udara. TNI identik dengan disiplin dan ketegasan. Marwah itu yang kami jadikan dasar perekrutan. Sebab menurut hemat kami, K3 berkaitan erat dengan kepatuhan dan kepatuhan berkorelasi erat dengan disiplin serta ketegasan,” Subkhan menambahkan.

Namun, katanya, unsur TNI itu tidak serta merta dilibatkan begitu saja. Ada proses seleksi yang ketat. Dari hasil seleksi, dilakukan pendidikan dan pelatihan selama dua minggu sehingga para anggota TNI tersebut mengantongi sertifikat Ahli Muda K3 Konstruksi yang resmi dikeluarkan Kemnaker.

Berbekal pendidikan dan pelatihan itu, mereka diangkat sebagai HSE Inspector dan ditempatkan di proyek-proyek yang kini sedang dikerjakan Waskita Karya di seluruh Indonesia. “Saya kira dalam waktu yang singkat ini, itu yang bisa saya share di forum BBK VI yang mengangkat tema Peran Perusahaan dalam Memajukan K3,” pungkas Subkhan.

Sekadar info, saat ini PT Waskita Karya (Persero) Tbk sedang menjalani proses penilaian dari WSO yang berpusat di Amerika, sebagai perusahaan publik berkinerja terbaik K3 dari Indonesia. Jika lolos, maka PT Waskita Karya (Persero) Tbk akan menerima penghargaan dari WSO pada Oktober 2019 mendatang, sebuah penghargaan K3 bergengsi tingkat dunia yang mengharumkan nama Indonesia.  (Hasanuddin)

Lihat juga: TNI mendukung melalui safety

Foto-foto : WSO Indonesia

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 + 3 =


Back to top button
Close
Close