Safety Management

Utamakan Keselamatan Kerja Ketimbang Aturan dan Budaya Keselamatan

Standar K3 wartawan harus lebih tinggi ketimbang pekerja sektor industri lain.

Probolinggo, isafetymagazine.com – Implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat dilakukan perusahaan bagi pekerjanya dengan dua cara.

Hal itu adalah pemaksaan melalui aturan dan pembentukan kesadaran (budaya).

“Keselamatan seharusnya adalah hal pertama yang harus dibahas sebelum urusan kerja,” kata Katamsi Ginano, General Manager External Affairs PT Merdeka Copper Gold.

Materi ini dikemukakannya dalam FGD Penyusunan Usulan Panduan Identifikasi Budaya dan Perilaku Risiko K3 Wartawan di Whiz Capsule Hotel Grand Bromo, Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur pada 3-4 April 2021.

Kalau merujuk buku panduan K3 untuk sektor pertambangan terdapat pemakaian kelengkapan kerja seperti sepatu, helm, dan alat pemadam kebakaran.

Implementasi ini tidak hanya dilakukan dengan pemaksaan, tetapi itu diakukan pembiasaan yang membentuk budaya keselamatan.

“Ketika ada orang bertanya, risiko terbesar wartawan ketika meliput apa? Kalau di pertambangan pertanyaan risiko itu bisa didefinisikan dan diidentifikasi jelas, tetapi kalau wartawan risikonya out of mind (tidak terduga-duga),” tuturnya.

Apa yang dialami wartawan Tempo ketika akan mencari suatu informasi kasus perpajakan di suatu acara pernikahan di Surabaya adalah sesuatu yang tidak disangka sama sekali.

Dia digebuki aparat guna menghalangi dia masuk ke acara tersebut.

Dari peristiwa tadi aturan dan budaya keselamatan kerja perlu dilaksanakan wartawan guna menghindari resiko kecelakana kerja.

Namun, pelaksanaan keselamatan kerja harus diutamakan ketimbang penerapan aturan dan budaya kerja.

Peristiwa lain yang bisa dijadikan pelajaran dalam penerapan K3, ujar Katamsi, adalah 19 petugas pemadam kebakaran hutan tewas di Amerika Serikat (AS).

Hal ini terjadi akibat mereka  menyelamatkan peralatan kerja, sehingga tidak bisa berlari cepat.

“Menjaga peralatan adalah aturan K3. Mereka bukan minus pemahaman K3, sehingga saking taatnya dengan prosedur, mereka tidak membuang peralatannya ketika api datang. Mereka meninggal sambil memeluk peralatannya,” ujarnya.

Namun, 19 petugas pemadam kebakaran ini tidak berpikir keselamatan kerja lebih penting dibandingkan aturan dan budaya kerja.

Dari kejadian tadi standar K3 wartawan harus lebih tinggi ketimbang pekerja sektor industri lain.

Mereka harus bisa mengidentifikasi beragam potensi bahaya yang mengancam keselamatan dan kesehatan kerjanya.

“Di antara cara pemaksaan dan budaya, hasilnya sama saja bila tidak menggunakan analisis risiko,” tuturnya. (tim/adm)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button