Jakarta, isafetymagazine.com – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) mengatakan penyusunan standar environment, social, and governance (ESG) nikel nasional terus mencapai kemajuan.
Langkah ini merupakan tuntutan pasar global yang semakin memperhatikan aspek ESG.
“Penyusunan standar terus bergerak maju. Saat ini draft rinci untuk Social Chapter sudah rampung dan memasuki tahap review. Untuk Environmental Chapter, penyusunan detail sudah mencapai sekitar 50% disusul oleh Governance Chapter,” kata Ketua Umum (Ketum) PERHAPI, Sudirman Widhy pada Rabu (4/3/2026).
Standar ESG Nikel Indonesia telah disusun sejak pertengahan 2025 dengan mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Standar ini dirancang dalam 33 chapter yang terdiri dari 10 chapter lingkungan, 10 chapter sosial, dan 13 chapter tata kelola.
Setiap chapter akan dilengkapi sub-chapter yang merinci persyaratan, indikator, dan dokumentasi pendukung agar standar dapat diterapkan secara operasional di lapangan.
Regulasi Indonesia menjadi tulang punggung penyusunan standar yang kemudian dipadankan dengan sejumlah rujukan internasional seperti Responsible Minerals Initiative (RMI)– Responsible Minerals Assurance Process (RMAP).
Kemudian, Nickel Mark, International Council on Mining and Metals (ICMM), International Finance Corporation Performance Standards (IFC-PS), dan Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
Ketua Tim Pokja Penyusunan Standar ESG Industri Nikel PERHAPI Tonny Gultom mengemukakan tahap berikutnya adalah konsultasi publik bersama para pemangku kepentingan.
“Setelah draf rinci setiap chapter rampung dan melewati review, kami akan menyelenggarakan FGD dalam format konsultasi publik,” ujarnya.
“Masukan dari para pemangku kepentingan mulai dari praktisi, akademisi, pemerintah, industri hingga pihak yang relevan di rantai pasok akan menjadi bagian penting dalam penyempurnaan Standar ESG Nikel Indonesia.”
Dengan penyusunan standar ESG, produk nikel nasional bisa bersaing saat kenaikan perhatian pembeli internasional terhadap praktik keberlanjutan dalam rantai pasok mineral.
Indonesia merupakan pemasok nikel terbesar di dunia dalam berbagai bentuk produk setengah jadi seperti Ni-matte, ferro nickel atau Nickel Pig Iron (NPI), dan mixed hydroxide precipitate (MHP).
Bahan baku produk tersebut berasal dari bijih nikel laterit yang ditambang di dalam negeri.
Sementara itu industri pengolahan nikel di dalam negeri menghadapi tekanan pasokan bahan baku. Pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel menjadi sekitar 260 juta ton hingga 270 juta ton berdampak pada kinerja sejumlah smelter.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mengungkapkan beberapa smelter menurunkan kapasitas produksi, bahkan menghentikan operasi.
Tiga smelter terdampak yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia di Bantaeng, Sulawesi Selatan, PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi Tengah, serta PT Gunbuster Nickel Industry di Morowali.
“Tiga smelter sudah kami konfirmasi (kolaps),” ujar Sekretaris Umum (Sekum) APNI, Meidy Katrin Lengkey pada Senin (2/3/2026).
Kebutuhan bijih nikel untuk smelter di dalam negeri pada 2026 diperkirakan mencapai 380 juta ton hingga 400 juta ton. Namun, produksi domestik hanya sekitar 270 juta ton dengan tambahan impor dari Filipina sekitar 23 juta ton.
“Demand (smelter) yang sebenarnya, bisa dikira 380 juta 400 juta tahun ini (kebutuhan smelter), kalau 270 juta (produksi), impornya 23 juta, artinya ada minus 90 juta,” ujarnya.
Pasokan dari Filipina juga tidak sepenuhnya dapat diandalkan, karena sebagian besar produksi negara tersebut telah terikat kontrak jangka panjang dengan China. Selain itu Filipina juga tengah mendorong pengembangan hilirisasi di dalam negeri.
“Yang bisa diekspor ke Indonesia hanya 23 juta ton konfirm, gak tau apakah ada penambahan IUP di Filipina atau enggak, tapi sepertinya susah,” tuturnya.
Keterbatasan pasokan ini membuat sebagian smelter di dalam negeri mengurangi line produksi. Tekanan terhadap industri hilirisasi nikel pun meningkat pada 2025 saat upaya industri untuk memenuhi tuntutan standar ESG dari pasar global. (adm)
Sumber: kompas.com














