i-Expert

Pendidikan Kedokteran Diakui Seorang Dokter Spesialis Memang Berat

Zulvia Oktanida Syarif mengungkapkan tiga hal yang bisa dilakukan institusi pendidikan, terutama rumah sakit pendidikan untuk para peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Jakarta, isafetymagazine.com – Dokter Spesialis Kejiwaan, Zulvia Oktanida Syarif mengakui pendidikan kedokteran adalah salah satu pendidikan yang berat, sehingga menimbulkan stres. Apalagi pendidikan dokter spesialis.

Beberapa aspek yang perlu diubah untuk menangani masalah tersebut seperti persepsi masyarakat tentang depresi. Dia menyoroti fakta terkait masih kuat stigma negatif tentang gangguan mental di tengah masyarakat.

“Depresi yang juga merupakan suatu gangguan mental dianggap sebagai suatu aib atau tanda kelemahan iman, kelemahan mental seseorang. Padahal, depresi adalah suatu penyakit yang sama seperti penyakit medis lainnya,” katanya.

Dengan begitu masyarakat memerlukan edukasi berkala tentang urgensi dan cara-cara menjaga kesehatan fisik dan mental selama menjalani pendidikan.

Jadi, pusat pendidikan perlu melakukan skrining gejala kesehatan mental secara berkala dan merujuk peserta didik ke layanan psikologis yang diperlukannya. Kerahasiaan identitas menjadi sangat penting untuk masalah tersebut.

“Terjaminnya anonimitas dan konfidensialitas akan meningkatkan motivasi peserta didik yang mengalami depresi untuk mencari bantuan, difasilitasi oleh pusat pendidikan,” ucapnya.

Zulvia Oktanida Syarif juga menuturkan beberapa indikator yang dirasakan ketika seseorang mengalami gangguan depresi. Jika sudah merasakannya, maka seseorang perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk segera menangani masalah tersebut.

“Ada suasana perasaan yang cenderung murung, sedih, mudah menangis, dan pikiran pesimistis yang berlangsung sepanjang hari selama minimal dua minggu,” ucapnya.

Indikator lain adalah perubahan pada pola tidur secara kuantitas dan kualitas serta pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup.

“Tentu saja apabila ada pikiran ‘lebih baik mati’ atau ingin mengakhiri hidup atau melukai diri, ini merupakan indikator kuat untuk konsultasi ke psikiater atau psikolog,” ujarnya.

Pendidikan dokter spesialis memang berat, ucap Zulvia Oktanida Syarif, membutuhkan pengorbanan waktu, biaya, tenaga, pemikiran yang besar, dan kurun waktu sekitar empat hingga lima tahun.

Persepsi pendidikan dokter ‘terlalu berat’ terlalu subyektif lantaran tiap program studi di tiap center pendidikan memiliki tantangan masing-masing bagi sebagian orang dapat dianggap berat.

Contohnya, program studi dokter spesialis Obgyn atau Anestesi dipersepsikan lebih berat, karena alamiah bidang pekerjaannya memiliki load kerja yang tinggi.

Selain itu waktu kerja panjang dan tidak lazim, seperti jaga malam atau operasi tengah malam, kesiagaan setiap saat, dan keterkaitan dengan kondisi kritis yang bersangkutan dengan nyawa manusia.

“Tiap program studi memiliki tantangannya sendiri-sendiri dengan tingkat kesuliitan masing-masing” ujarnya.

Zulvia Oktanida Syarif mengungkapkan tiga hal yang bisa dilakukan institusi pendidikan, terutama rumah sakit pendidikan untuk para peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Waktu kerja lebih memerhatikan keamanan dan kesehatan harus diterapkan, sehingga perly pembatasan durasi maksimal kerja termasuk durasi jaga.

Fasilitas untuk kesejahteraan juga menjadi penting lantaran rumah sakit (RS) pendidikan harus memberikan akses kepada fasilitas seperti, ruang istirahat atau kamar jaga dan makan siang.

“Akses layanan konseling bagi peserta didik,” ujarnya.

Pemangku kebijakan pun juga harus bertindak untuk menangani masalah ini. Zulvia mengatakan biaya menjadi salah satu aspek yang bisa dibenahi para pemangku kebijakan.

Pemangku kebijakan dapat memastikan pendidikan dokter spesialis terjangkau dari segi biaya.

“Selain itu memastikan terjaminnya taraf kesehatan dan kesejahteraan peserta didik dari sisi pengaturan waktu kerja, akses terhadap layanan kesehatan, dan kompensasi kesejahteraan,” tuturnya. (mei/adm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button