OHSRegional NewsSafety at Work

Wakil Ketua DK3N : Ada Permasalahan dalam Implementasi di PT Waskita Karya

JAKARTA, ISafetyMagz.com – Pengakuan Dirut PT Waskita Karya Tbk (Persero) Muhammad Choliq bahwa pihaknya mengabaikan aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) sehingga memicu terjadinya serangkaian kecelakaan kerja konstruksi dalam setahun terakhir, sungguh mengejutkan.

Muhammad Choliq meminta maaf karena kecelakaan konstruksi banyak berasal dari proyek yang tengah dikerjakan perseroan.

“Mohon maaf karena kecelakaan kerja paling banyak terjadi di Waskita Karya. Saya 35 tahun di finance jadi yang ada di belakang kepala saya adalah kalau mau jadi perusahaan besar maka cari proyek sebanyak-banyaknya dan sediakan uang secukupnya untuk memulai proyek. Itu membuat K3 sedikit terlupakan,” kata Choliq.

Menurut Choliq, selama kurun waktu tiga tahun terakhir, nilai proyek Waskita Karya meningkat drastis. “Dua tahun lalu tidak ada kecelakaan, karena produksi hanya sampai Rp10 triliun. Tapi, tahun lalu, mencapai Rp45 triliun,” Choliq menambahkan.

Kecelakaan kerja di proyek tol becakayu Jalan DI Panjaitan, Jakarta, Selasa (20/2). (FOTO: Istimewa)

Peningkatan nilai proyek ini diakui Choliq tidak diimbangi dengan penambahan sumber daya manusia (SDM) yang cukup. Pertumbuhan SDM perusahaan cuma berkisar 20 persen- 30 persen per tahun dalam tiga tahun terakhir.

“Dengan peningkatan ukuran produksi tersebut, harus diikuti dengan manajemen K3 yang lebih baik. Makanya, salah satu yang bisa dilakukan adalah struktur organisasinya harus ada yang mengatur K3 khusus, selain direktur operasional. Ini yang perusahaan belum sadari,” tutur Choliq.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N) Rudiyanto mengaku cukup terkejut. Sebab dalam pandangannya, PT Waskita Karya sudah memiliki sistem K3 yang bagus.

Rudiyanto menilai ada permasalahan dalam implementasi di tingkat operasional, yang kemudian memicu terjadinya serangkaian kecelakaan kerja sektor konstruksi di proyek-proyek infrastruktur yang tengah ditangani Waskita.

“Memang sepertinya agak aneh statement (Dirut PT Waskita Karya) tersebut. Dalam pandangan saya Waskita sebenarnya sudah punya sistem (K3), namun mungkin ada permasalahan dalam implementasi terutama dengan semakin banyaknya proyek yang dilakukan terdapat lack kendali pada span of control. Kemungkinan juga lack pada subkon yang belum terbiasa dengan pola kerja Waskita dan pemahaman awareness tentang safety,” kata Rudiyanto saat dikonfirmasi Kamis (1/3/2018).

“Jadi yang perlu ditingkatkan awareness tentang K3,” Rudiyanto menegaskan.

Terpisah, Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan Kementerian BUMN Ahmad Bambang menegaskan, pihaknya akan melakukan perombakan jajaran direksi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Perombakan itu akan dilakukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan pada 6 April 2018 mendatang.

Menurut Ahmad Bambang, perombakan ini merupakan pemberian sanksi terhadap PT Waskita Karya seiring seringnya kasus kecelakaan kerja yang terjadi pada proyek-proyek insfrastruktur yang tengah ditangani Waskita.

“Kami sudah sepakat di Kementerian BUMN, Waskita Karya akan dilakukan perombakan jajaran direksi,” tegasnya di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Rabu (28/2/2018). (has)

 

 

 

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 2 =


Back to top button