FeaturedRegional NewsSafety Management

Hujan Tak Halangi MWT di Proyek Bendungan Rukoh di Aceh

PIDIE, NAD, isafetymagazine.com – Awan hitam pekat sudah menggelayut di langit Desa Alue, Kecamatan Titeu, Kabupaten Pidie, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada Rabu (21/8/2019) siang. Melintasi pukul 14.40 WIB, langit makin pekat. Embusan angin pada siang hari itu, cukup kencang.

Tak lama kemudian, sebuah mobil jenis Toyota Fortuner warna putih tiba dan parkir tepat di depan kantor proyek Bendungan Rukoh. Seorang pria paruh baya berkacamata keluar dari pintu tengah. Hujan cukup deras pun turun begitu pria paruh baya tersebut menjejakkan kaki di teras depan kantor proyek.

Dia lah pria yang ditunggu-tunggu sedari pagi. Pria paruh baya yang kumis dan janggutnya sudah memutih itu adalah Aris Mujiono, Senior Vice President (SVP) Divisi Infrastruktur III PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Setelah bersalaman dengan sejumlah karyawan di sana, Aris Mujiono langsung mengenakan sepatu karet warna kuning dan mengenakan helm keselamatan.

“Ayo kita ke lapangan,” ajak Aris kepada Project Manager (PM) bendungan Rukoh, Sudarmoko. Dua kendaraan segera disiapkan. Ditemani Sudarmoko dan Manajer QHSE Divisi Infrastruktur III Sihar P Hasibuan, Aris Mujiono menaiki Toyota Fortuner putih tadi. Beberapa manajer di proyek pun bergegas masuk kendaraan proyek, tak terkecuali isafetymagazine.com.

Ban kendaraan yang kami tumpangi sempat menari-nari ketika melintasi jalanan proyek yang basah diguyur hujan. Di tengah derasnya hujan, Aris Mujiono keluar dari kendaraan yang ditumpanginya.

Seorang pekerja tergopoh-gopoh memayungi Aris. Orang nomor satu di Divisi Infrastruktur III Waskita Karya itu lantas berdiri tak jauh dari sebuah tebing di mana dua unit alat berat tengah menggali tanah di bagian atas bukit dan menumpahkan galian ke arah tebing tadi. Batu-batu berukuran cukup besar berjatuhan ke tebing dan mendarat tak jauh dari tempat Aris berdiri.

Kala itu ada pengerjaan Sandaran Kiri bendungan. Di seberangnya, Sandaran Kanan bendungan, juga tengah dikerjakan oleh sebuah perusahaan jasa konstruksi BUMN lainnya. Setelah mendapatkan penjelasan dari PM Sudarmoko, Aris kemudian memberikan pengarahan-pengarahan terkait proses pekerjaan Sandaran Kiri bendungan agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan dan supaya pekerjaan bisa berlangsung cepat, tepat, dan sesuai target, serta tak terjadi insiden.

Setelah dirasanya cukup, Aris Mujiono kemudian ingin melihat dan memeriksa peralatan penggalian terowongan yang baru dibeli Waskita Karya. Kedua unit kendaraan itu pun segera bergerak ke lokasi penempatan peralatan penggalian terowongan, yang berlokasi tak jauh dari lokasi pengerjaan Sandaran Kiri bendungan tadi.

Hujan cukup deras masih mengguyur bumi Pidie. Tanpa menghiraukan hujan deras, Aris turun dari kendaraan. Sejumlah pekerja yang tengah istirahat sekaligus berteduh di sebuah gubug, tampak terkejut begitu melihat SVP Divisi Infrastruktur III berdiri di tengah guyuran hujan di depan gubug.

Mereka tampak panik, tapi Aris memakluminya. Aris bergegas menuju sejumlah peralatan penggalian terowongan yang terparkir di sebuah sudut. Di sana ada mesin bor (road header), ada breaker modifikasi yang dilengkapi conveyor, ada dump truck, dan lainnya. Mesin-mesin penggali terowongan itu tampak masih baru.

Road Header
Di depan road header, Aris mendapatkan penjelasan dari tim proyek. Aris Mujiono kemudian memberikan pengarahan-pengarahan kepada tim proyek pimpinan Sudarmoko, baik dari segi teknik maupun non-teknik. Aris berharap proses pengerjaan terowongan (tunnel) bendungan berbentuk tapal kuda sepanjang 510 meter dan berdiameter 3 meter itu bisa selesai satu bulan lebih cepat dari waktu yang ditargetkan.

Road Header

“Metode penggalian terowongan bendungan dengan menggunakan mesin bor, baru kali ini digunakan Waskita di proyek bendungan,” kata Aris kepada isafetymagazine.com.

Sebelum dilakukan penggalian dengan cara dibor, terlebih dahulu akan dibangun portal di depannya. Sistem portal akan terus dibuat di sepanjang terowongan yang sedang digali nantinya, untuk menghindari terjadinya tanah longsor.

Menurut PM Bendungan Rukoh Sudarmoko, proses pengerjaan penggalian terowongan baru akan dimulai pada awal Oktober mendatang dengan estimasi selesai di bulan Januari 2020.

Setelah melakukan Management Walk Through (MWT) ke lokasi proyek bendungan Rukoh, Aris mengumpulkan para karyawan di ruang rapat kantor proyek. Kepada para karyawan, Aris menjelaskan kenapa ia harus tetap melakukan MWT ke lokasi proyek meski hujan.

“Memang sengaja, saya hanya ingin melihat bagaimana kesiapan para pekerja ketika sedang hujan,” katanya. Pada proyek bendungan, hujan bisa menghambat proses kerja. “Kalau hujannya turun berbulan-bulan, ya praktis tidak ada kegiatan,” sambung Aris.

Selama lebih dua jam, Aris memberikan pengarahan-pengarahan terkait proyek pembangunan bendungan Rukoh. Acara MWT diakhiri dengan penilaian atas proyek bendungan Rukoh Paket 2 yang dikerjakan Waskita Kerja KSO dengan Adhi Karya.

Dari lima item yang dinilai, Aris memberikan penilaian berupa emoticon dua jempol pada aspek HSE dan HCM. Sedangkan untuk aspek Bisnis, Legal, dan Quality, Aris memberikan penilaian berupa emoticon satu jempol.
Kendati progress pembangunan Bendungan Rukoh baru mencapai 3,62% per Agustus 2019, toh Aris Mujiono mengaku cukup puas dengan kinerja yang dilakukan tim proyek pimpinan Sudarmoko. Sebab proses pengerjaan baru dilakukan per Januari 2019 begitu kontrak didapat pada Desember 2018.

Proyek bendungan Rukoh akan dibangun di atas lahan sekitar 858,58 ha, yang meliputi Area Genangan seluas 768,82 ha, Tapak Bendungan 73,29 ha, dan Jalan Akses 16,74 ha.

Terkendala Pembebasan Lahan
Kendati demikian, hingga saat ini proses pembebasan lahan belum selesai. Mestinya, kata PM Bendungan Rukoh Sudarmoko, pembebasan lahan sudah selesai di Mei 2019 sesuai target. “Tapi tidak terlaksana, dan hal itu bisa menjadi salah satu kendala dalam proses pengerjaan bendungan. Di tahun pertama pengerjaan, targetnya mencapai 14,11% pada Desember 2019,” kata Sudarmoko.

Bendungan Rukoh di Kab Pidie, NAD. (Foto: Dokumentasi kantor proyek Bendungan Rukoh)

Menurut Sudarmoko, proyek pembangunan bendungan Rukoh terdiri atas dua paket yaitu Paket 1 dan Paket 2. Waskita Karya KSO dengan Adhi Karya mengerjakan Paket 2 yang meliputi pekerjaan persiapan, bangunan pengelak, bendungan utama, pekerjaan hidromekanikal (terowongan pengelak), dan pekerjaan lain-lain seperti clearing & grubbing area genangan dan pembuatan patok batas genangan.

Nilai kontrak pengerjaan Paket 2 sekitar Rp1,02 triliun, di mana Waskita mendapat porsi 58% atau senilai Rp595,37 miliar dengan masa pelaksanaan selama 1.431 hari terhitung sejak 31 Desember 2018 dan masa perawatan selama 365 hari. (Hasanuddin)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 3 =


Back to top button
Close
Close