Health

60 Persen dari Pasien Kesehatan Mental adalah Perempuan

Jakarta, isafetymagazine.com – Co Founder Jivaraga, Svida Alisjahbana, menyebutkan sebanyak 60% pasien yang melakukan konsultasi kesehatan mental adalah perempuan. Dari jumlah ini perempuan berusia 20 tahun sampai 40 tahun.

“Mereka mencari ketenangan, stabilitas di tengah beragam tantangan hidup. Di sini ada kelas yoga, meditasi, konseling one on one dengan pakar. Kami menyediakan tempat perlindungan untuk mengatasi kesehatan mental dan menemukan kedamaian,” katanya pada Rabu (20/3/2024).

Isu kesehatan mental yang dialami perempuan adalah kecemasan dan berpikir berlebihan. Mereka memiliki harapan yang sangat tinggi untuk diri sendiri.

“Banyak yang datang ke sini high achievers. Semuanya ingin dicapai lalu dibandingkan dengan pencapaian orang lain,” ujar Co Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Jivaraga, Cindy Gozali.

Penyebab perempuan mempunyai ekspektasi terlalu tinggi seperti memiliki banyak tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Langkah ini supaya diterima di lingkungannya.

“Aku harus beprestasi baru bisa disayangi diterima keluarga dan masyarakat. Seringkalli nge-push karena ingin diterima lingkungan sekitar, bukan karena keinginan mereka sendiri,” tuturnya.

Perempuan usia 30 tahunan juga kerap memasang target terlalu tinggi, bahkan di luar kemampuannya. Mereka juga kerap tidak puas dengan pekerjaannya saat ini.

“Mereka kurang merasa terpenuhi. Jadinya seperti ‘aku mau ngapain sama hidup aku’, ‘aku ngerasa belum apa-apa’ lalu membandingkan dengan pencapaian orang dan temannya,” ujarnya.

Cindy Gozali mengungkapkan rekomendasi yang diberikan sesuai dengan masing-masing pribadi mulai mengenali diri sendiri lebih baik lagi.

“Tergantung kondisi masing-masing. Perasaan apa yang paling dirasakan,” ucapnya.

Contohnya, jika melihat unggahan media sosial (medsos) menjadi pemantik atau trigger membanding-bandingkan. Untuk melatih diri sendiri memperoleh kebahagiaan bukan berdasarkan pencapaian orang lain.

“Perlu latih diri sendiri dan dilakukan secara konsisten, misal jika melihat sesuatu (di media sosial), kita belajar no judgement, observasi saja. Jalani hidup masing-masing, percayalah kita yang paling tahu misi dan tujuan hidup yang diinginkan. Belajar tidak komparasi,” ujarnya. (ctk/adm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button